Di tengah gempuran teknologi dan AI, justru ilmu sosial menjadi pembeda utama bagi mahasiswa. Survei World Economic Forum 2023 menunjukkan 8 dari 10 skill masa depan berbasis pemahaman sosial-humaniora. Lantas, mengapa disiplin ini semakin krusial?
Ilmu sosial melatih mahasiswa memahami kompleksitas manusia. Ketika teknologi seperti ChatGPT berkembang, kemampuan menganalisis motivasi manusia, budaya, dan relasi kekuasaan justru tak bisa direplikasi mesin. Contoh nyata terlihat dalam profesi UX Researcher yang menggabungkan psikologi dengan teknologi.
Di dunia yang terpolarisasi, ilmu sosial berfungsi sebagai “jembatan”. Mata kuliah sosiologi politik mengajak mahasiswa memahami akar konflik dari berbagai perspektif, bukan sekadar menghakimi. Kasus algoritma media sosial yang memecah belah masyarakat bisa dianalisis melalui lensa ini.
Startup seperti Bukalapak dan Gojek kini merekrut banyak lulusan antropologi. Mereka mampu membaca perilaku masyarakat urban dan tradisional secara simultan – skill yang lahir dari riset etnografi selama kuliah.
Daripada mempertentangkan STEM dengan ilmu sosial, mahasiswa perlu melihatnya sebagai kombinasi ampuh. Meminjam istilah Yuval Noah Harari, “Yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling adaptif” – dan ilmu sosial adalah senjata adaptasi terbaik.





